Tradisi Kita Tret Tet Tet Bukan Estafet Yang Meregang Nyawa

Persebaya Persib Romansa Kedua Tim Perserikatan Yang Tak Pernah Usai
March 7, 2019
Hatur Nuhun Bandung !
March 14, 2019

Kata estafet mungkin sudah tidak terlalu asing untuk kita dengar. Di dunia sepakbola pun, kata estafet merupakan salah satu cara suporter untuk mendukung tim kebanggaannya bermain saat pertandingan kandang maupun tandang, yang dalam arti perjalanan yang dilakukan dengan berganti ganti kendaraan. Banyak makna yang terkandung dalam arti estafet ini, dan banyak juga yang salah/beda mengartikannya.

Bonek, salah satu basis suporter terbesar di Indonesia ini bisa dibilang sebagai pencetus tradisi awaydays, yang berarti sekumpulan orang atau suporter yang melakukan perjalanan jauh/keluar dari kota surabaya untuk mendukung Persebaya Surabaya. Tradisi ini sudah cukup tertanam di jiwa Bonek bahkan mereka menyebutnya sebagai tret tet tet. Mungkin di zaman sekarang istilah tret tet tet lebih dikenal sebagai laga tandang atau awaydays. Tapi bagi kalangan suporter Persebaya, istilah ikonik berpergian berpelesir ke kandang lawan adalah Tret Tet Tet. Tret tet tet sendiri pada saat itu melakukan kordinasi pemberangkatan suporter di laga tandang dengan jumlah yang sangat besar dan masif dengan menggunakan kendaraan umum maupun pribadi dan itu tidak dilakukan secara gratis melainkan mencarter atau menyewa moda transportasi.

Sudah sering sekali setiap pertandingan Persebaya selalu ada kabar duka, dan kabar duka tersebut tidak lain adalah meninggalnya bonek dalam perjalanan menuju stadion untuk mendukung Persebaya. Banyak penyebab dari kabar duka tersebut, mulai dari rasa capek yang dialami bonek selama menempuh perjalanan sehingga mengantuk dan terjatuh dari atas kendaraan umum atau bahkan mengkonsumsi minuman keras yang kelewat batas. Dari contoh penyebab kecelakaan diatas diatas, bisa kita simpulkan jika yang mereka lakukan cukup beresiko dan berbahaya. Bukan masalah perilaku personal, tapi ini berbicara mengenai perilaku kelompok yang dimana sesuatu yang dominan akan mengalahkan yang kecil.

Selama ini kita masih sering mentoleransi akan hal ini, sulit bagi kita untuk melarang mereka yang masih berprinsip estafet dan sulit bagi kita untuk tidak membenarkan hal tersebut. Kita boleh berpikir jika kita semua mempunyai tujuan yang sama dalam mendukung Persebaya akan tetapi tidak semua cara atau bentuk dukungan kita sama. Mungkin di tahun tahun yang lalu, para dedengkot bonek juga pernah melakukan estafet, maksud dari dedengkot disini adalah orang yang dituakan dan yang mengayomi antar sesama. Tapi bisa kita lihat, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, mereka paham dan merasa cukup untuk berhenti melakukan estafet ini.

Banyak alasan dan faktor pendukung untuk tetap ngeyel melakukan estafet. Mulai dari masalah keterbatasan dana, tingginya rasa kebersamaan hingga sekedar ingin menambah seduluran antar bonek. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kebiasaan estafet yang dulunya murni untuk mendukung Persebaya mulai terkontaminasi dengan hal hal yang kurang baik. Estafet sekarang banyak ditunggangi orang orang yang mencoba memanfaatkan nama Bonek untuk kegiatan negatif. Seperti contoh merasa jagoan selama perjalanan estafet karena banyak kawan kawan estafet lainnya, memberhentikan kendaraan yg ingin mereka tumpangi ditengah jalan dengan arogan, saling memanfaatkan keadaan demi sekedar ingin bertahan hidup selama diperjalanan. Dari tiga aspek diatas, semuanya mempunyai efek yang cukup tinggi jika tidak terpenuhi, mereka akan merasa kecewa dan melampiaskan kekecewaan tersebut. Bisa berupa intimidasi atau bahkan bertindak anarki. Tindakan intimidasi dan anarki inilah yang sekarang menghantui tujuan estafet, yang sampai sekarang ini masih menjadi kebiasaan dulur dulur Bonek.

Mereka yang berbuat kriminal dengan mengatasnamakan bonek, persebaya dan estafet tak lebih dari seorang pecundang. Disaat para Bonek berlomba-lomba mengubah stigma buruk terhadap dirinya justru dirusak oleh segelintir orang yang tak bertanggung jawab. Hormat setinggi-tingginya untuk kalian yang masih teguh berprinsip dan mengorbankan waktu, tenaga hingga uang pribadi untuk mendukung Persebaya tanpa merugikan orang lain.

Kita semua Bonek, suporter yang akan selalu mendukung Persebaya sampai kapanpun. Mau sampai kapan hal ini akan terus terjadi, jika disetiap Persebaya berlaga selalu ada korban dari bonek. Sudah saatnya kita sebagai bonek mengedukasi diri kita masing masing, kita sadarkan diri kita untuk meninggalkan sesuatu yang beresiko menuju sesuatu hal yang lebih aman/meminimalisir resiko tersebut. Meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan memang sulit, tapi menjadi lebih baik bukan pilihan yang sulit.

Sudah Saatnya Bonek Menghapus Stigma Negatif Yang Sering Ditujukan Kepada Dirinya Sendiri. Waktunya Berbenah, Waktunya Berubah Menjadi Bonek Yang Lebih Kreatif Dan Atraktif. Ini Semua Demi Nama Baik BONEK & PERSEBAYA. (rws)

error: Content is protected !!