Telenovela Paruh Musim

RIVALITAS YANG SESUNGGUHNYA
August 23, 2019
Persebaya = Bisnis Ngoyo, Prestasi Loyo
October 3, 2019

TKS – Mengikuti sepak terjang perjalanan Persebaya pada paruh musim kompetisi tahun ini, laksana mengikuti serial telenovela ataupun sinetron di televisi. Dari awal hingga selesainya laga melawan Bhayangkara FC akhir pekan kemarin, kita seperti disuguhi sekian banyak drama dari pekan ke pekan. Apa yang terjadi di musim lalu hendaknya menjadi pelajaran buat semua elemen stakeholder Persebaya, mulai dari pemilik saham klub, jajaran manajemen, jajaran tim pelatih hingga pada kalangan Bonek sendiri. Namun apa yang sudah terjadi hingga kini? Kita justru senang sekali “bermain drama”.

            Drama pertama,  mari kita saksikan bagaimana tim ini dibentuk untuk mengarungi musim ini. Di awal musim, santer tuntutan dari para Bonek untuk “memaksa” manajemen membeli pemain-pemain produk asli Surabaya, setidaknya hasil didikan dari internal akademi Persebaya di masa lampau seperti Andik Vermansah, Evan Dimas, Taufiq dan Hansamu Yama. Faktanya, hanya satu nama yang masuk, Hansamu Yama yang memang diproyeksikan untuk berduet dengan Otavio Dutra di jantung pertahanan tim. Hal ini pun memantik reaksi sebagian Bonek untuk memprotes manajemen yang dinilai gagal menghadirkan pemain bintang pada skuad musim ini. Lantas bagaimana dengan beberapa posisi krusial lainnya seperti playmaker dan striker? Meski sempat melambung dengan kehadiran para pemain baru semacam Manucekhr Jalilov, Damian Lizio dan Amido Balde. Namun ekspektasi itu tinggalah ekspektasi. Lizio maupun Jalilov tidak sebanding dengan kontribusi yang pernah diberikan  Robertino Pugliara  di musim kemarin. Sementara Amido Balde tidaklah seganas David Da Silva. Balde dinilai terlalu lambat dan sering membuang-buang peluang yang harusnya bisa dikonversikan menjadi gol. Mungkin hanya terhitung hingga di partai semifinal Piala Presiden sajalah ketiga pemain ini bermain moncer dan dinilai cukup menjanjikan. Selanjutnya, sesudah kalah dari Arema di final Piala Presiden di pra musim hingga musim kompetisi bergulir, ketiganya terus menunjukkan grafik performa yang semakin menurun.

Benarkah manajemen memilih pemain yang tepat mengingat semuanya tanpa melalui seleksi ketat untuk penilaian layak tidaknya masuk skuad? Atau justru manajemen terlalu berani ‘membeli kucing dalam karung’ dengan berbekal rekomendasi dari para agen dan ‘makelar’ pemain asing. Setidaknya kita bisa melihat bahwa perencanaan pembentukan tim dan proses rekrutmen para pemain baru di musim ini  terlihat asal-asalan. Pelatih kepala saat itu, Djajang Nurjaman, mungkin berperan dalam mendatangkan rekrutan lokal semacam  Novan Setya, Alwi Slamet, Abd. Rochim dan Elisa Basna. Namun nyatanya hampir semuanya selalu gagal menembus tim utama. Performanya tidak jauh berbeda dengan ketiga pemain asing yang disebutkan diatas. Masih gagal memberikan kontribusi terbaik buat tim.

Teeet! Tombol panik pertama telah dipencet oleh manajemen, David Da Silva , sang predator musim lalu dipulangkan pada pertengahan musim untuk mempertajam lini depan tim. Lantas kenapa dulu dia tidak diperpanjang saja kontraknya ya? Bagaimana sebenarnya manajemen merencanakan proyeksi sebuah tim hingga sampai melakukan hal ceroboh seperti ini?

Drama kedua, adalah pemecatan pelatih. Seperti déjà vu di musim lalu saat masih segar dalam ingatan kita, Alfredo Vera yang begitu dipuja karena telah mengantarkan Persebaya menjuarai Liga 2 sekaligus naik kasta ke Liga 1 juga gagal menyelesaikan musimnya. Vera dipecat sebelum musim berakhir. Saat itu Persebaya terlempar hingga ke papan bawah klasemen. Musim ini, Persebaya sebenarnya masih lebih baik dari musim lalu dengan bertengger di kisaran 10 besar klasemen, dengan raihan belum pernah kalah di kandang pula. Namun itu tidak mampu menyelamatkan karir Djajang Nurjaman sebagai arsitek Persebaya di musim ini.  Bajol Ijo terlalu mudah “mensedekahkan” poin poin wajib di kandang justru kepada tim tamu yang hadir. GBT tidak lagi ‘menyeramkan’. Bukan karena boneknya yang melempem dalam memberikan dukungan kepada tim, namun justru tim sendiri yang tak kunjung memberikan permainan terbaik layaknya menjadi salah satu kandidat juara, setidaknya wajib masuk papan atas dan bisa finish lebih baik dari capaian musim lalu. Djajang Nurjaman pun dipecat sebelum tengah musim berlalu. Apakah kecenderungan bergonta-ganti pelatih akan menjadi budaya baru buat Persebaya? Semoga tidak.

Teeet! Tombol panik kedua telah dipencet oleh manajemen, duet maut eks pelatih Timnas Indonesia,  Alfred Riedl dan Wolfgang Pikal ditunjuk untuk menangani Persebaya hingga akhir musim.

Drama ketiga, “kami masih diatas kalian”. Seperti mengulang kejadian saat Arema memenangkan Piala Presiden di awal musim ini dengan mengalahkan kita di partai final. Kali ini  Aremania bersuka cita penuh kepongahan saat salah satu sudut tribun Kanjuruhan memajang sebuah banner besar bertuliskan “kami masih diatas kalian” saat Arema mengalahkan Persebaya dengan skor telak 4-0. Persebaya memang tidak bermain layaknya Persebaya yang ngosek, ngeyel dan wani sore itu, kita bermain layaknya kerupuk yang melempem, tidak ada “kriuknya” sama sekali. Harus diakui Arema memenangkan pertandingan karena mereka memang bermain lebih baik daripada Persebaya. Faktor dipecatnya pelatih kepala, Djajang Nurjaman,  oleh manajemen hanya berselang beberapa hari saja sebelum melawat ke Malang, tentu saja memberikan pengaruh signifikan terhadap keharmonisan tim. Hal ini diperparah dengan beredarnya foto manajer tim, Chandra Wahyudi  mengenakan penutup kepala bertuliskan Arema di akun medsosnya yang lantas ramai-ramai diunggah oleh bonek dunia maya. Chandra memang bukan arek Malang, namun dia pernah menyelesaikan kuliahnya di Malang, tentu saja hal ini memunculkan sentimen negatif kepadanya, karena mau tidak mau muncul prasangka adanya  ‘ikatan’ antara Chandra-Malang-Arema. “Pengkhianat” begitu sebutan yang disematkan kepada Candra dan juga Nanang Prianto (wakil manager tim-yang kebetulan kelahiran Malang juga.) Sempat dikira hoax, namun pada akhirnya bisa diketahui bahwa foto itu asli dan bukan editan.

Loyalitas Chandra tentu saja dipertanyakan selaku manajer Persebaya. Tuntutan agar Candra dan Nanang dipecat, menyeruak tanpa bisa dibendung. Seluruh cabang Persebaya Store ditutup paksa oleh para Bonek yang melampiaskan kemarahan pada dua sosok yang dinilai paling bertanggungjawab akan merosotnya prestasi tim selama setengah musim ini. Presiden Klub, Azrul Ananda, sampai harus turun tangan sendiri menemui Bonek langsung guna meredakan kemarahan mereka. Keesokannya konferensi pers resmi oleh pihak manajemen digelar, sekali lagi janji evaluasi dan revolusi akan kinerja tim dikumandangkan. Namun tuntutan supporter agar Nanang dan Chandra dipecat tidak dipenuhi Presiden klub. AZA sepertinya masih member kesempatan (yang mungkin ini akan menjadi kesempatan terakhir) kepada mereka berdua. Dia masih melihat faktor profesioanalisme lebih dipertimbangkan daripada rekam jejak keduanya di masa lalu yang melibatkan keduanya ‘beraroma’ Malang dan Arema.  Sebuah perjudian beresiko besar karena hal ini menyangkut masalah trust, kepercayaan. Apakah pemilihan Alfred Riedl dan Wolfgang Pikal termasuk langkah panik sebatas meredam gejolak tuntutan para Bonek? Kita belum tahu, biarlah waktu yang akan menjawabnya ketika musim kedua berakhir nanti.

Teeet! Tombol panik ketiga telah dipencet, kali ini bukan oleh manajemen,namun dari Bonek. Sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja telah diaktifkan. Kinerja Chandra, Nanang ,  tim dan manajemen akan lebih diawasi dengan lebih ketat setelah ini.

Drama ke empat, peringkat pertama untuk urusan denda. Luar biasa sekali raihan “prestasi” Persebaya untuk urusan yang satu ini. Tercatat sampai separuh musim, Persebaya didenda oleh PSSI sebesar 1.190.000.000. Ini sudah lebih besar daripada denda musim lalu (musim lalu Persebaya juga “menjuarai” raihan ini) yang mencapai 1.182.500.000!!! Entah berapa banyak lumpia dan es teh plastikan yang akan bisa kita nikmati bersama dengan uang sebanyak itu. Yang lebih parah adalah denda-denda ini berasal dari kesalahan-kesalahan yang sama, terus dan diulang-ulang. KIranya seekor keledai pun tidak akan terjatuh dalam lubang yang sama, namun kita tetap saja terjerembab dalam lubang yang sama. Penyalaan flare di tribun, pelemparan ke  lapangan, nyanyian rasis dan masuknya supporter ke lapangan tetap saja terjadi. Bahkan PSSI sampai menyebutkan kesalahan kesalahan yang menyebabkan denda ini sebagai “pengulangan”. Ibarat dalam bahasa Jawa adalah “kebacut”.

PSSI dituding pilih kasih dalam menjatuhkan denda, PSSI dituduh memang bermaksud menggembosi Persebaya secara finansial,PSSI begini PSSI begitu dan masih banyak lagi. Namun di balik itu semua, apa yang sudah kita perbuat hingga kini? Sudahkah kita berubah?

Kenapa harus memaksakan diri masuk ke dalam lapangan jika hanya untuk menyampaikan pesan protes kepada manajemen? Kita bisa saja berhenti menonton ke stadion agar mata para petinggi manajemen semakin terbuka bahwa protes yang kita sampaikan adalah nyata dan perlu penanganan secara cepat. Ini adalah cara paling efektif untuk ‘menjewer’ telinga manajemen, melalui income/pemasukan mereka dari penjualan tiket. Ini tentu berimbas secara signifikan bagi neraca keuangan klub.

Kenapa terus menerus melempar benda (entah itu botol plastik atau apapun) ke lapangan? Memangnya lemparan kita itu bisa mengena ke pemain lawan yang kita benci, ke pemain kita yang tampil loyo, ke wasit dan asistennya, ke bench pemain dan pelatih, ke pak polisi yang mengamankan pertandingan, atau bahkan ke jajaran petinggi klub di tribun vvip? Sampai kah? Tepat mengenai? Tidak.

Nyatanya justru lemparan kita malah mengenai dulur-dulur kita sendiri yang duduknya di depan dan di bawah kita. Beberapa fotografer,sesama supporter,bahkan bonek bonek cilik yang hadir  pun menjadi korban aksi pelemparan yang tidak bertanggungjawab dan sia sia ini. Seorang capo sekelas cak Agus ‘Tessy”pun pernah menjadi korban aksi lempar melempar ini.

Kenapa harus terus menyalakan flare di dalam stadion? Dimana jelas jelas hal tersebut sudah diterbitkan dalam regulasi sebagai suatu hal yang dilarang untuk dilakukan. Hanya untuk meniru supporter luar sana di mana tribunnya selalu penuh dengan asap? Tidakkah ini cukup mengganggu pandangan dan pernafasan buat orang orang di sekitarnya.Bisa saja ada anak anak kita yang harus mengalami gangguan pernafasan diakibatkan oleh asap flare ini. Bukankah flare sendiri memang fungsinya untuk perangkat S.O.S bagi para pelaut, penerbang, pendaki ataupun tim SAR? Bukan untuk dinyalakan di stadion. Lantas untuk apa dinyalakan di stadion? Mengabadikannya dalam satu jepretan foto lantas kemudian membaginya ke media sosial hanya untuk mengejar jumlah  likes, comments dan subscribers? Lihatlah, betapa fakirnya kita akan popularitas semu yang  tidak mengangkat prestasi tim sama sekali. Inikah yang dinamakan kejayaan? Haqqul yakin kreatifitas, kehebatan, harga diri dan kehormatan Bonek juga Persebaya tidak akan berkurang sedikitpun jika kita berhenti menyalakan flare di stadion.  Masih banyak atraksi dan kreatifitas lain yang bisa kita lakukan di tribun untuk mendukung Persebaya daripada sekedar melakukan penyalaan flare. .

            Teeet! Tombol panik ke empat telah dipencet, Kreatif,kritis dan militan tetap harus dijaga konsisten…….tapi jangan untuk kebodohan.

Drama ke lima, urusan jumlah penonton terbanyak, Persebaya jawaranya. Jumlah penonton musim ini (data hingga pertengahan musim) telah mencapai total 217.429, tertinggi dibanding klub lain peserta Liga 1. Rasanya dengan torehan antusiasme penonton sedemikian habatnya, maka raihan musim lalu (485.328 penonton dalam satu musim) bisa saja terlampaui di musim ini. Hal ini menjadi menarik, mengingat Persebaya melakoni musim ini dengan timpang dan banyak kendala, bahkan hingga berujung ke pemecatan pelatih. Tertahan di posisi ke 5 klasemen sementara dan begitu banyaknya raihan draw di kandang rupanya tidak menurunkan animo Bonek untuk terus hadir di stadion Gelora Bung Tomo guna mendukung Persebaya bertanding. Bukan hal yang gampang untuk memenuhi stadion berkapasitas 50.000 untuk tim dengan performa bak yo-yo yang naik turun tidak stabil. Namun Bonek telah membuktikan militansi dan loyalitasnya, seperti slogan “Menang kusanjung, kalah kudukung”. Itulah fungsi dari supporter, untuk men-support, mendukung tim dalam segala kondisi.

Teeeeet! Kali ini bukan tombol panik yang dipencet. Namun sebuah sangkakala raksasa yang ditiup dari kota Pahlawan, Surabaya. Diiringi dengan tabuhan genderang perang pertanda siaga 1 buat seluruh tim yang berlaga di liga1. Inilah kami, Persebaya Surabaya, berbenah, berubah dan menyatukan tekad….kami datang, bermain untuk menang dan menjadi Juara!

Salam satu nyali!

WANI!

error: Content is protected !!