Surabaya Nomor Satu, Malang Yang Kedua

Jangan Terlalu Over Confidence, Persebaya !
September 13, 2018
Bekal Nekat Dan Wani Untuk Curi Poin Di Kandang Singa
October 6, 2018

TKS – Judul diatas merupakan sebuah kalimat yang bisa multi-tafsir maknanya, ” Surabaya Nomor Satu, Malang Yang Kedua “. Tentu semuanya sepakat bahwa Surabaya merupakan ibukota Provinsi Jawa Timur dengan berbagai keunggulannya dibidang perekonomian, pelayanan publik yang prima, pendidikan bahkan hingga urusan sepakbola. Simpelnya Kota Surabaya menjadi Role Model bagi kota-kota lainnya di Jawa Timur termasuk Kota Malang dalam berbagai aspek. Kembali ke konteks persepakbolaan, Persebaya merupakan klub yang sejak dulu kala menjadi representatif dari Jawa Timur. Ini bukan hanya bualan belaka, klub yang berlogo Tugu Pahlawan dibalut dengan ikan hiu dan buaya telah lahir sejak tahun 1927 jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka. Persebaya sendiri juga ikut andil membidani lahirnya federasi sepakbola negeri ini yang bernama PSSI.

Tak usah ditanya apa saja prestasinya, sederet gelar berskala nasional maupun internasional pernah disabet oleh klub kebanggaan Bonek dan Bonita tersebut. Pada tahun 2004 pada era ke-emasannya, Persebaya menjadi tim pertama yang berhasil meraih juara Ligina 2 kali yaitu pada tahun 1997 dan 2004. Kala itu Persebaya diperkuat oleh legiun asing terbaik di masanya dan pemain lokal kaliber timnas macam Kurniawan DY, Gendut Doni, Uston N hingga Hendro Kartiko.

Pada waktu silam peta persaingan sepakbola Indonesia hanya berkutat pada PSM Makassar (Sulawesi), PSMS Medan (Sumatera), Persipura (Papua), Persib (Jawa Barat), Persija (DKI), PSIS Semarang (Jawa Tengah) dan Persebaya Surabaya (Jawa Timur). Masuk medio 1980-an muncullah berbagai klub daerah Jawa Timur yang turut meramaikan persepakbolaan Indonesia, Arema Malang salah satunya. Bisa dibilang salah satu klub berprestasi namun sayangnya prestasinya pun bahkan tak pernah bisa menyamai Persebaya Surabaya. Jika dikomparasikan di berbagai aspek, klub asal Malang ini sangat tertinggal jauh. Berbicara prestasi di era unifikasi Perserikatan dan Galatama saja Persebaya sudah unggul dengan 2 kali juara sedangkan Arema Indonesia baru sekali merasakan. Berbicara fanatisme dan loyalitas terhadap klub kebanggaan, Aremania tak mampu menyelamatkan unsur history klubnya sendiri hingga sekarang masih dilanda dualisme yang tak kunjung usai sedangkan Bonek tak usah diceritakan lagi karena sejarah telah mencatat siapa kelompok suporter yang menjadi pionir dalam melakukan perlawanan kepada rezim busuk PSSI.

Maaf, sebelum kalian lahir kami sudah merasakan juara… dan Maaf, KAMI SELALU NOMOR SATU DAN KALIAN SELALU NOMOR DUA !

Salam Satu Nyali ! Wani ! (ep)

error: Content is protected !!