Persebaya vs Persinga : Laga Yang Dipaksakan, Laga Yang Dirindukan

Berbenah Demi Sang Kebanggaan
February 13, 2019
Arogansi Aparat Yang Brutal Jangan Terulang Lagi
February 18, 2019

TKS – Tentu masih ingat betul di benak para suporter persebaya tragedi ISL 2009/2010 pertandingan hidup dan mati antara Persik Kediri melawan Persebaya yang harusnya dihelat pada tanggal 29 April 2010 di stadion Brawijaya, Kediri urung digelar karena tidak mendapatkan izin keramaian dari kepolisian. Saat itu baik Persebaya maupun Persik butuh memenangkan laga tersebut agar bisa masuk zona play-off promosi-degradasi. Kedua tim punya peluang untuk menggeser posisi Pelita Jaya. Klub yang dimiliki oleh keluarga bakrie saat itu duduk di peringkat 15, posisi zona play-off. Persik Kediri harus menang minimal 5-0, Persebaya harus menang 3-0. Pelita Jaya menanti hasil dari kedua tim tersebut.

Jadwal pertama 29 april 2010 urung digelar karena tidak mendapatkan izin, PSSI menjadwal ulang pertandingan tersebut pada tanggal 6 mei 2010 dengan venue stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Nahas jadwal kedua juga tidak mendapatkan izin dari kepolisian Yogyakarta namun tim Persebaya saat itu sudah berada di Yogyakarta dan ditahbiskan menang WO dengan skor 0-3 oleh wasit karena Persik Kediri selaku tuan rumah gagal menyelenggarakan pertandingan.

Entah Persebaya memiliki dosa apa terhadap federasi, kemenangan WO pun dianulir dan di reschedule menjadi 8 agustus 2010 digelar di stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang. Kali ini pihak persebaya sudah kesal dengan penundaan-penundaan tersebut dan memutuskan tidak datang ke Palembang hingga di skors kalah WO 3-0 oleh PSSI dan membuat Persebaya didegradasikan paksa.

De Javu 2010 terjadi lagi, kali ini motifnya berbeda. Persebaya Surabaya diharuskan bertanding di fase 32 besar Piala Indonesia dikarenakan pihak sponsor menilai sharing rating TV Persebaya merupakan salah satu yang tertinggi di Liga 1 dan PSSI menginginkan tidak ada pertandingan WO di fase 32 besar. Di satu sisi kita pasti bangga dengan hal tersebut, di lain sisi penundaan jadwal hingga 4 kali merupakan pelanggaran terhadap statuta liga yang selalu di “ dewa-dewa “ kan oleh PSSI. Jika menurut aturan Skuad Green Force bisa melenggang mulus ke fase 16 besar tanpa mengeluarkan keringat karena Persinga Ngawi selaku tuan rumah gagal menyelenggarakan pertandingan. Berbeda di era 2010 yang memutuskan tidak hadir sebagai symbol perlawanan, kali ini manajemen persebaya “ PATUH “ terhadap keputusan PSSI yang menggelar laga 32 besar dengan hanya 1 Leg saja. Persebaya masih mentolerir dan “ mengasihani “ Persinga yang jelas-jelas tidak mampu menyelenggarakan pertandingan.

Permasalahan pertandingan ini sangat kompleks sekali, di satu sisi sudah melanggar regulasi dan dipaksakan namun Bonek juga rindu akan atmosfer stadion yang terakhir kali mereka rasakan pada 8 Desember 2018 saat laga pamungkas Liga 1 melawan PSIS Semarang.

Apapun itu intrik yang terjadi pada pertandingan kali ini, mari kita tepikan dahulu. Tak usah diragukan Bonek menjadi garda terdepan ketika berhadapan dengan federasi namun kita tak boleh MUNAFIK. Kita rindu Persebaya berlaga. Mari kita penuhi dan hijaukan GBT Sabtu esok.

Sama Halnya Dengan Dendam, Rindu pun Harus Terbalaskan (*)

error: Content is protected !!